Tiga Langkah Pemeriksaan Payudara

Pengobatan penyakit apa pun menekankan diagnosis dini dan pengobatan dini. Begitu pun dengan kanker payudara, kuncinya adalah diagnosis dan pengobatan dini. Kami pernah melakukan penelitian lanjutan terhadap lebih dari 3.000 pasien kanker payudara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup 10 tahun antara lain 87% pada pasien stadium I (awal), 67% pada pasien stadium II, dan hanya 35% pada pasien stadium III (lanjut).



Oleh karena itu, mayoritas wanita perlu meningkatkan kesadaran mereka tentang pencegahan kanker dan melakukan pemeriksaan payudara pada berbagai tahap perjalanan hidup mereka.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah cara yang baik untuk mendeteksi kanker payudara. Di China, kebanyakan kasus kanker payudara ditemukan pertama kali oleh pasien itu sendiri. SADARI dapat dilakukan setelah mandi. Perhatikan dengan cermat di depan cermin apakah kedua payudara simetris, apakah puting payudara melesak ke dalam atau tegak ke atas, apakah kulit payudara cekung ke dalam atau perubahan abnormal lainnya. Kemudian, telentang di tempat tidur, kedua tangan menyentuh seluruh bagian payudara dan ketiak di sisi masing-masing untuk memeriksa apakah ada nodul keras yang abnormal. Hindari mencubit payudara saat pemeriksaan. Dianjurkan agar wanita melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan sejak awal pubertas.

Begitu Anda menemukan tanda-tanda mencurigakan saat pemeriksaan payudara sendiri, segeralah melakukan pemeriksaan mamografi dan USG di klinik spesialis payudara untuk memastikan diagnosis. Saat ini, mamografi dan USG diakui sebagai metode pemeriksaan kanker payudara yang paling umum digunakan dan paling efektif secara klinis.

Karena mamografi dapat mengamati kanker payudara stadium awal dengan massa yang tidak terdeteksi secara klinis, terutama mamografi digital generasi baru yang menjadikan gambar lebih jelas, tingkat diagnosis kanker payudara stadium awal lebih tinggi, dan tingkat keakuratan identifikasi tumor jinak dan ganas bahkan bisa mencapai lebih dari 90%. Pada prakteknya juga menunjukkan bahwa 85% pasien kanker payudara di bawah usia 50 tahun menemukan kanker melalui pemeriksaan mamografi. Skrining umum mamografi dapat mengurangi angka kematian kanker payudara pada wanita di atas 50 tahun sebesar 30%. Oleh karena itu, American Cancer Society memberikan anjuran sebagai berikut: Wanita berusia antara 35-39 tahun harus melakukan satu kali mamografi. Setelah usia 40 tahun, lakukan pemeriksaan satu atau dua tahun sekali. Setelah usia 50 tahun, lakukan pemeriksaan setahun sekali . Di China, wanita di atas 35 tahun juga harus melakukan mamografi sesuai persyaratan di atas. Sedangkan bagi kelompok yang memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi, seperti menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 52 tahun, hamil di usia lebih dari 35 tahun, lajang atau tidak memiliki anak, memiliki riwayat keluarga mengidap kanker payudara, kanker payudara di satu sisi, saat remaja pernah menerima radiasi sinar dan pasien yang menderita penyakit payudara jinak, serta pasien hyperplasia yang lebih parah, FAM, mastitis dan cedera payudara, disarankan untuk melakukan mamografi setahun sekali.

USG juga merupakan salah satu metode pemeriksaan yang umum untuk penyakit payudara dan dapat dikombinasikan dengan mamografi. Metode ini memiliki keistimewaan antata lain tidak beracun, tidak berbahaya dan praktis, dapat mengidentifikasi penyakit payudara seperti tumor jinak, tumor ganas, kista, nodul padat dan hiperplasia. Namun, pemeriksaan USG kadang bisa keliru, sulit untuk mendiagnosis massa kurang dari 1 cm.

Jika puting payudara pasien mengeluarkan cairan, dapat menggunakan ductoscopy karena dapat mendiagnosis sebagian besar pasien. Metode ini memiliki tingkat diagnosis yang tinggi dan minim rasa sakit. Tetapi sebelum pemeriksaan, antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) harus diperiksa, dan saat diperlukan juga harus melakukan tes HIV untuk mencegah infeksi silang.

Pemeriksaan patologi merupakan dasar penting untuk diagnosis klinis kanker payudara, terutama untuk hasil mamografi dan USG yang mencurigakan. Pemeriksaan patologi meliputi sitopatologi dan histopatologi. Pemeriksaan sitopatologi minim luka, minim rasa sakit, cepat dan mudah. Pemeriksaan histopatologi tidak hanya kualitatif, tetapi juga dapat menentukan jenis tumor sebelum operasi, memberikan referensi untuk pengobatan. Perangkat biopsi jaringan generasi baru bahkan dapat menyedot (membedah) lesi kanker stadium awal dan tanpa operasi.