Apakah hiperplasia payudara berpotensi menjadi kanker payudara?

Apakah hiperplasia payudara berpotensi menjadi kanker payudara?

Hiperplasia dan kanker payudara sama-sama menyerang bagian payudara, namun keduanya memiliki tingkat keganasan yang berbeda. Hiperplasia adalah jenis penyakit jinak payudara yang sering ditemui, bukan termasuk tumor ataupun peradangan, merupakan penyakit proliferasi pada jaringan payudara. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutnya sebagai "gangguan struktur payudara". Patogenesisnya berhubungan dengan gangguan hormon, gejala klinisnya yaitu timbulnya nyeri dan benjolan pada payudara, kebanyakan ditandai dengan fenomena yang berkala serta memiliki batas yang jelas, jadi biasanya gejala ini akan lebih terasa menjelang masa menstruasi, terutama pada bagian atas payudara. Hal ini bisa juga dipengaruhi oleh faktor psikologis, dan tidak ada nyeri payudara seperti yang dirasakan pada penderita kanker payudara. Dalam hal pemeriksaan fisik, pada sebagian besar hiperplasia payudara akan terasa penebalan kelenjar, teksturnya cukup kokoh, namun tidak keras, batas area penebalan dan jaringan payudara tidak cukup jelas, tidak menempel pada kulit, dan pada beberapa pasien bisa ditemukan adanya gejala keluar cairan dari puting. Sedangkan pada kanker payudara, benjolan terasa lebih jelas, teksturnya lebih keras, memiliki kemampuan gerak yang rendah, dan disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak. Namun, ciri-ciri yang disebutkan tadi tidak bisa dijadikan patokan untuk mendiagnosa kedua penyakit tersebut, terlebih pada kasus kanker payudara stadium awal, diperlukan pemeriksaan pencitraan bahkan patologi, sehingga pasien tetap bisa menjalani pengobatan tepat waktu.

Jenis pemeriksaan yang sering digunakan adalah mammografi dan USG Color Doppler. Seiring dengan semakin banyaknya penerapan mammografi, semakin banyak kanker payudara stadium awal yang terdeteksi, misalnya sejak tahun 1984 hingga sekarang, jumlah kasus kanker payudara stadium awal meningkat sebanyak 10 kali lipat. Mikrokalsifikasi (76%), jaringan lunak padat (11%), koeksistensi (13%) memberikan dasar untuk diagnosa pada pencitraan, sehingga mammografi telah menjadi jenis pemeriksan rutin yang harus dijalani kaum wanita setiap tahunnya. Selain itu, teknologi USG Color Doppler telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada kasus yang berjenis padat, karakteristik morfologis dan aliran darah harus diamati dengan cermat. Jika perlu, dilakukan pemeriksaan dalam jangka waktu singkat, guna mengamati perubahan. Terkadang, pada posisi yang diragukan, bisa menggunakan teknik biopsi jarum untuk mendapatkan analisis patologis, guna mengetahui pengobatan lebih lanjut. Karena sifatnya yang non-invasif, USG color Doppler kini lebih banyak digunakan.

Di sisi lain, insiden kanker payudara telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, di beberapa negara maju dan kota-kota di China, kanker payudara telah menjadi jenis kanker nomor satu di kalangan wanita. Dan kini yang menjadi perdebatan, apakah hiperplasia bisa menjadi kanker atau tidak. Sebagian besar penelitian menemukan bahwa mayoritas hiperplasia sederhana umumnya tidak menjadi kanker, hanya beberapa kasus hiperplasia atipikal yang berkaitan dengan risiko kanker payudara. Hiperplasia atipikal adalah hiperplasia sel epitel, memiliki bentuk tertentu, gangguan atau hilangnya polaritas sel tidak menentu. Penelitian terbaru menunjukkan, biopsi jarum mengkonfirmasi hiperplasia saluran payudara atipikal memiliki 10%-50% kemungkinan disertai dengan hiperplasia saluran payudara atipikal. Pada proses perubahan tumor payudara in situ menjadi kanker payudara invasif terjadi penghapusan pada beberapa titik kromosom. Lebih dari 70% karsinoma duktal in situ disertai dengan kehilangan heterozigositas, sebaliknya, peluang terjadinya kehilangan heterozigositas pada hiperplasia payudara sekitar 35%-40%, pada jaringan payudara normal, seharusnya berada di angka 0.

Saat ini, masih belum ada pengobatan yang pasti dan efektif untuk hiperplasia payudara. Obat-obatan China (TCM) dapat menghindarkan penderita dari kecemasan dan berbagai faktor psikologis lainnya, mengonsumsi makanan yang mengandung berbagai vitamin dan yodium dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang timbul, sedangkan penggunaan terapi endokrin, seperti tamoxifen, dapat mengganggu keseimbangan hormon, oleh karena itu, sebaiknya digunakan dalam jangka waktu singkat, hanya ketika terasa nyeri yang mengganggu.

Untuk hiperplasia payudara yang tidak bisa diabaikan, pemeriksaan fisik secara keseluruhan sangatlah penting. Pada tahun 1997, American Cancer Society (ACS) mengembangkan prinsip-prinsip pada pemeriksaan payudara :

Wanita 18-39 tahun, melakukan pemeriksaan SADARI setiap bulan, dan pemeriksaan klinis 1 kali dalam 3 tahun;

Wanita di atas 40 tahun, melakukan pemeriksaan klinis (termasuk mammografi) 1 kali dalam setahun

Dalam praktik klinisnya, penderita hiperplasia memerlukan  pemeriksaan pencitraan, terlebih hiperplasia dan kanker payudara sering terjadi dalam waktu bersamaan. Diagnosis hiperplasia yang sembarangan dapat menunda pendeteksian dan pengobatan kanker payudara, terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga, memiliki faktor infertilitas (tidak menyusui), kehamilan pertama di usia yang lebih tua, serta penggunaan esterogen pada penderita hiperplasia dalam jangka panjang. Tentu saja, penderita hiperplasia juga tidak perlu khawatir berlebihan, sebagian besar dari mereka adalah penderita hiperplasia biasa, umumnya tidak menjadi kanker. Melakukan operasi secara sembarangan bisa menjadi "pengobatan yang berlebihan".